Menjadikan Media sebagai Sumber Belajar


Irfan, saat ini duduk di kelas 2 SMP, selalu ingat pelajaran tentang perang kemerdekaan dan perang dunia yang dipelajarinya saat kelas 4 dan 5 SD. Materi pelajaran itu begitu berkesan baginya, antara lain karena, “Aku nonton film tentang perjuangan yang bagus-bagus. Jadi aku ingat terus!”

Saat itu, film yang ditonton Irfan antara lain Tjut Nyak Dhien dan beberapa film dokumenter tentang perang kemerdekaan dan perang dunia (misalnya tentang pasukan Sekutu dan Hitler). Gurunya di kelas memutar film-film tersebut untuk memberi latarbelakang pengetahuan kepada para siswa sebelum masuk ke materi pelajaran yang pokok. Dan ternyata, siswa lebih memahami materi pokok itu dengan lebih cepat. Film ternyata membantu para siswa untuk mengingat pelajaran dengan lebih baik.

Tak berhenti sampai di situ, Irfan juga antusias untuk mengetahui informasi lainnya mengenai perang kemerdekaan dan perang dunia melalui film-film lain dan buku serta ensiklopedi. Bukan hanya Irfan, beberapa teman Irfan di kelas pun mengalami hal yang sama.

Guru Irfan telah menjadikan media film sebagai sumber belajar. Menggunakan media sebagai sumber belajar tentu saja bukan hal yang baru bagi dunia pendidikan. Telah lama diakui, media sangat potensial untuk digunakan guna memperkenalkan pelajaran-pelajaran seperti matematika, membaca, sains, sejarah, geografi, dan sebagainya kepada anak-anak dengan cara lebih modern dan menyenangkan.

Dalam hal ini, beragam media bisa dipakai: TV, film, radio, Internet, atau buku (baik buku cerita maupun buku referensi semacam ensiklopedi). Di sini, media digunakan dengan cara dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman belajar lain di dalam maupun di luar kelas.

Memanfaatkan media sebagai sumber belajar berarti memberikan batu loncatan pengalaman pendidikan. Pada contoh Irfan tadi, dengan film yang ditontonnya, siswa mendapatkan lompatan pengalaman pendidikan cukup banyak: ia tahu peristiwa perang yang sebenarnya, ia melihat apa penyebab orang berjuang demi membela negara, ia belajar tentang apa dampak perang, ia belajar tentang sifat-sifat manusia, dan ia belajar tentang nasionalisme. Ia belajar tentang konteks dan akibat perang, sesuatu yang sulit sekali diperolehnya jika ia hanya membaca dari apa yang tertulis di buku teks pelajaran!

Tidak hanya itu, dengan menonton film semacam itu, siswa tidak hanya belajar tentang sejarah, tetapi juga belajar geografi, bahasa, sosiologi, budaya, dan sebagainya. Hanya dengan satu media, tak terkira manfaat yang didapat!

Ada prasyarat untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya tersebut. Guru di kelas harus berperan aktif. Guru harus mengajarkan siswa untuk membaca media (dalam hal ini film).

Apa kegunaan membaca media? Pertama, membantu anak belajar berpikir, merenung, dan meraih pengetahuan baru serta menghubungkan-hubungkan berbagai gagasan. Kedua, melatih anak untuk berpikir kritis. Dan ketiga, membantu anak menikmati kegiatan mereka.

Jika media yang digunakan adalah film, yang harus diterapkan guru adalah gaya menonton actively viewed video (video dengan pemirsa aktif). Dengan strategi ini, selama film dinyalakan, guru tidak diam atau berada di belakang kelas, tetapi tetap berada di depan kelas sambil membawa remote control. Sesekali mereka menyela program untuk mendorong diskusi kelas, melontarkan pertanyaan, dan mengecek pemahaman. Pada intinya, guru harus berinteraksi dengan anak dalam dialog yang hidup untuk membantu anak mengubah pengalaman menonton film menjadi proses berpikir aktif.

Ada beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk menjalankan strategi ini. Pertama, identifikasikan film yang hendak dilihat bersama anak-anak. Kedua, doronglah anak untuk bertanya. Ketiga, berikan komentar pada acara. Keempat, hubungkan komentar tersebut dengan pengalaman anak. Kelima, jika penayangan telah usai, usahakan untuk membahasnya. Guru bisa mengaitkan dengan pengalaman guru sendiri. Keenam, harus diusahakan agar kegiatan itu mengasyikkan. Dan ketujuh, rencanakan bersama program apa lagi yang akan dilihat.

Sebenarnya, kegiatan menjadikan media sebagai sumber belajar tidak hanya dapat dilakukan di sekolah. Di rumah pun dapat dilakukan oleh orangtua dengan cara yang sama seperti yang tadi diterapkan di sekolah.

Menjadikan media sebagai sumber belajar akan menjadikan siswa belajar atau memperoleh pengetahuan dengan cara yang menyenangkan, tidak membosankan karena harus terpaku pada buku teks. Percayalah, hal ini akan membahagiakan siswa dan membuat mereka punya antusiasme tinggi untuk mengetahui lebih lanjut.

Oleh : Nina Mutmainnah Armando

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: